Sulitnya menunaikan kewajiban
Setelah membaca cerita dari Blog Manggis, saya jadi teringat dengan cerita yang dialami seorang teman dekat saya. Cerita yang cukup membuat saya prihatin. Koq jadi prihatin, apa ada cerita sedih disini. Bukan cerita sedih, tapi sebuah kondisi yang cukup bikin dongkol. Kondisi yang membuat kita merasa tidak diperlakukan dengan semestinya meskipun berada di negeri sendiri.
Seperti penuturan teman saya itu, suatu sore dia dan istrinya mengendarai sepeda motor untuk menuju ke pasar. Rencananya mau berbelanja. Di sebuah perempatan mereka terhenti karena ada razia gabungan untuk kendaraan bermotor. Dari kepolisian, dispenda, dan aparat setempat. Setelah melewati antrian, dengan tenang teman saya ini menunjukkan SIM dan STNK saat diminta oleh petugas, beberapa polisi muda yang sepertinya baru menyelesaikan pendidikan dan latihannya.
Disini, cerita itu membuat saya jadi tertawa mendengar penuturannya. Entah benar, entah hanya ditambah-tambah. Singkatnya, waktu itu dia segera dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan karena SIM dan STNK-nya dianggap tidak bermasalah. Tapi sebenarnya disinilah masalahnya itu. Lho..?
“Coba sampeyan periksa lagi STNK saya itu”, pinta teman saya pada petugas yang memeriksanya itu. “Ndak ada masalah pak. SIM dan STNK ini masih lama masa berlakunya”, jawab si petugas.
Lalu teman saya menunjuk pada plat nomor polisi sepeda motornya. “Coba sampeyan cocokkan nomor di STNK dengan nomor yang ada di plat itu”. Polisi muda itu segera melakukan apa yang diminta oleh teman saya. Sejenak jidatnya jadi berkerut. “Iya pak, nomornya ndak sama. Koq bisa begini pak?”
“Lain kali, kalau lagi razia, sebagai petugas, sampeyan harus lebih teliti melakukan pemeriksaan. Masa’ sampeyan suruh saya jalan begitu saja, padahal ada yang ndak beres. Kenapa nomornya ndak sama, tanya sama atasan sampeyan. Sudah satu tahun lebih saya mengurus STNK ini dan selama itu juga STNK ini belum diganti. Sampeyan bisa menahan saya, tapi atasan sampeyan yang akan menanggung akibatnya”, jawab teman saya sok berwibawa.
Singkat cerita, teman saya dan sepeda motornya tidak ditahan. Selamat karena alasan yang aneh. Sebenarnya sepeda motor itu dulu dibelinya dari dealer di kota lain. STNK-nya pun menggunakan STNK kota itu. Berhubung dia tidak tinggal di kota itu, dia mengurus penggantiannya sesuai dengan tempat tinggalnya sekarang. Memang sudah setahun lebih dia menunggu STNK baru yang sudah diurusnya itu. Yang pertama datang adalah plat nomor sepeda motor. Langsung dipasangnya. Ndak masalah, kata petugas. STNK masih dalam proses.
Akibat belum ada STNK yang baru, teman saya itu terpaksa membayar pajak sepeda motornya pada dispenda kota asal sepeda motor itu. Lalu apa masalahnya? Masalahnya dia ingin membayar pajak untuk daerah tempat tinggalnya. “Wong saya tinggal di kota B, ngapain saya bayar pajak untuk kota A?”, gerutunya.
Akhirnya dia nekat, menulis surat ke Polres, mengadukan Polsek di tempatnya yang menurutnya tidak becus mengurus selembar STNK. Tahu apa yang terjadi? Petugas yang mengurus STNK-nya itu datang ke rumahnya. Dia bilang keberatan karena teman saya itu mengadukan masalah itu ke Polres. Kontan teman saya jadi naik darah. “Kalau seandainya bapak becus mengurus STNK itu, saya ndak akan mengirim surat itu. Masa’ untuk mengurus selembar kertas seperti harus menunggu sampai satu tahun lebih. Apa lagi menyelesaikan pekerjaan yang lain. Bapak tahu ndak, gara-gara STNK itu saya jadi ndak bisa menyumbang pajak untuk kota ini. Padahal itu kewajiban saya. Aneh, mau membayar kewajiban aja koq susahnya minta ampun. Apalagi untuk menuntut hak.”
Related posts:
- Tentang keperjakaan dan keperawanan
- Samudera Atlantik dalam puisi saya
- Salah ambil, salah buang, dan salah masuk
- Semua orang pasti buang air besar
- Nostalgia di SMA Jalawiyata
- Disambung lagi, biar tambah panjang
- Baru bikin account facebook nih…
- Baca-baca situs portal berita
- Rambut kepang dua vs kuda kepang
- RA. Kartini dan saya
- Bain dan seterika listriknya
- Jangan diparkir seperti ini
- Capek
- Pemilu itu untuk rakyat, bukan untuk calon pemimpin
- Iklan pada sms
Cara paling mudah menjalankan bisnis pulsa elektronik. Menguntungkan dan dapat diandalkan.
Koperasi Online Business Plan KSU-Nuari
Koperasi Online yang memberikan potensi pasif income hingga jutaan rupiah per bulan
Kursus Online, tempat belajar membuat website
Konsep revolusioner dan cara mudah untuk belajar membuat website yang menghasilkan uang bagi Anda
Aset Mandiri, Program Investasi Online
Bisnis Online paling mudah bagi pemula, uang terus mengalir ke rekening Anda
Software pengirim iklan baris gratis
Hanya dengan satu kali KLIK saja iklan Anda langsung terkirim ke ratusan situs iklan baris gratis
RumahWeb, penyedia layanan domain dan hosting
Menyediakan layanan domain dan hosting dengan biaya murah dan sudah teruji kualitasnya

pertamax dulu deh yaa
Johan pada Rita :
Waduh.., padahal rencananya mau saya pertamax-in sendiri. Keduluan mbak Rita deh. Wekekeke…
Hmmm ironis emang… gak tau knpa sist. administrasi di negeri kita ini gak tertata. Birokrasinya ruwet. Kami juga pernah ngalamin, udah jauh2 datang niat mau ngurus SIM ( jarak agak jauh, lumayan buang waktu kerja) pas nyampe sana dengan entengnya di jawab form nya habis, ntar kalo udah ada, anda kesini lagi…. kebayang gak? udah jauh2 malah disambut kayak gitu ma mereka….waduh keselnya waktu itu….
Johan pada Rita :
Sebenarnya birokrasinya sudah cukup sederhana koq. Cuma ya itu, selalu ada oknum yg ndak nggenah di setiap instansi penerbit dokumen2 seperti itu. Bukan rahasia lagi kalau pada instansi seperti itu menjadi tempat subur praktek2 perpunglian. Ssst, mereka baca komen ini ndak ya?
hihihi…biar mereka merasakan,alasan sajah,pas dilaoporin baru dech gedubra9kan hehe..saluut wat temennya ban9 jo:)
wekekekekekek!
konyol banget yah tuh petugas!
weekekekek!
Johan pada Trendy :
Bukan konyol, tapi lebih tepat disebut bahlul. Wekekeke…juga.
Husss, lagi puasa koq malah ngerasanin orang lain.
klo urusannya dengan pulisi emang bikin jengkel…
sabar..sabar..
Johan pada oRiDo™ :
Ssstt…**clingak-clinguk, lihat kiri-kanan, siapa tau ada pulisi ikutan baca komen ini**
kabuuurr, ndak ikut2.
wa ka ka ka ka ka ….
aneh aneh aja tuh petugas….
kagak usah dibayar aja yach sekalian
Johan pada Artha :
Wah.., bagian ini yg cukup merepotkan.
Jangan2, gara2 dongkol dengan kejadian ini, teman saya itu nekat bikin kantor penerbit STNK sendiri. Wakakaka…
Itu artinya kesalahan bukan pada diri kita dong…yg patut dijadikan kambinghitamnya…sietem birokrasinya yg lelet…emang dah tradisi begtu…ya susah !!!
Johan pada Manggis :
Sebagus apa pun sebuah system, kinerjanya sangat ditentukan oleh pelaku system. Mental orang kita masih seperti itu, tugas dan jabatan bukan menjadi pengabdian. Prinsipnya, apa yg bisa elo kasih utk gw, baru deh gw urus keperluan elo. Kalau ndak mau, urus aja di tempat lain. Terpaksa deh kita ngurus STNK di Singapura sana. Wekekeke….
wehe..3x jarang ada yg seperti itu. Pinter juga ide nya tmn satu itu. Mau bayar KEWAJIBAN AJA KOQ SUSAH ya ? Yah apg mau mendekatin lbrn gini, mungkin mreka oknum pulisi pada sibuk nyari tambahan buat THR , he3x
Johan pada Norjik :
Lho.., apa di Balikpapan kondisinya seperti itu juga ya? Bung Norjik hati2 aja deh kalau berkendaraan di bulan puasa seperti sekarang ini. Siapa tau meski pun sudah bawa sekarung surat2 kelengkapan kendaraan, tetap aja kena kemplang. Namanya juga lagi cari THR. Hehe…
hehe nggak heran, birokrasi negeri tercinta,
… jadi inget mau ngurus KTP
Johan pada 1rw@n :
Meskipun kondisinya seperti itu, tapi ndak mengurangi rasa cinta pada negeri ini, kan.
ak KTP gak yg STNK sama aj.. :p
Johan pada Ardy Pratama :
Atur aja deh.
eh, mas kaltim yah? kq ada pulau bunyu?
Johan pada Ardy Pratama :
Waktu pertama kali datang kesini, tau2 pulau Bunyu sudah ada. Ya udah, saya biarin aja.
woooogh hebat kali bapak itu…. saluuuut…
Johan pada Chic :
Lebih hebat lagi kalau semua orang bisa seperti itu.
hmmm.. kewajiban itu emang sulit untuk dilaksanakan…
(asal jgn sulitnya itu karena jebakan birokrasi aja hehehe)
semangat ya
Johan pada Dhedhi :
Justru kondisi mental pelaku birokrasi yg membuat kita sulit menunaikan kewajiban.
Liatin aja buncitnya sih petugas
dan melintingnya kumisnya